Laman

Minggu, 10 Oktober 2010

BIMBINGAN TAUHID



BIMBINGAN TAUHID

            Aqidah yang benar adalah dasar diterimanya amal, orang-orang yang melakukan amal sholeh sekalipun banyak dan bermacam-macam apabila aqidah mereka tidak benar atau ternoda dengan syirik akbar, maka amal sholeh mereka tidak diterima disisi Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-An’am ayat 88 :

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {88}

Itulah petunjuk Allah yang mana Allah memberi petunjuk kepada yang Ia kehendaki dari hamba-Nya dan apabila mereka menyekutukan Allah pastilah hancur amal-amal mereka.
            Oleh karena itu mengkaji dan memahami aqidah yang benar adalah merupakan urutan yang sangat penting dalam kewajiban yang tidak boleh ditunda. Dalam dakwahnya Rosulullah -sholallahu 'alaihi wa sallam- sangat mementingkan aqidah, lebih dari 13 tahun Rosulullah tinggal di Mekkah mengajak kepada tauhid dan membersihkan aqidah dari noda-noda syirik dan khurofat. Demikian pula ketika beliau hijrah ke Madinah tetap memerintahkan beribadah kepada Allah saja dan tidak boleh dinodai dengan kesyirikan, lebih dari 80% ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan tentang aqidah yang benar dengan berbagai macam cara dan dari berbagai sudut pandang, dengan kalimat yang jelas dan tegas.
            Pada akhir-akhir ini dinegara-negara yang penduduknya mayoritas Islam bahkan banyak Negara-negara itu yang 100% penduduknya muslim, organisasi-organisasi Islam telah berusaha mempersatukan ummat Islam untuk satu tujuan yaitu ‘Izzul Islam wal muslimin, para da’i telah disebar ke seluruh pelosok negeri untuk menyadarkan ummat Islam agar bersatuuntuk mencapai tujuan tersebut, berpuluh-puluh ayat al-Qur’an dan hadist mereka kupas, betapa pentingnya persatuan ummat untuk mencapai tujuan tersebut,, tapi saying, para da’i itu tidak mementingkan aqidah, bahkan mereka melemparkan slogan :”Biarkan manusia pada aqidahnya masing-masing, jangan dipertentangkan perbedaan ini, tapi bersatulah mengusung kesepakatan kita bersama yaitu Izzul Islam wal muslimin.
            Sudah lebih 100 tahun mereka berjuang untuk menjunjung tinggi agama Islam dan memposisikan ummat Islam dalam kehidupan. Namun cita-cita mereka itu belum kunjung tiba, bahkan ummat Islam yang mayoritas itu semakin terpinggirkan, tersingkir dan dikuasai oleh golongan nasionalis sekuler yang korup dan menindas.
            Pada sekitar tahun 1744 M, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari madzhab Hanabilah yang luas ilmunya dan dalam pemahamannya berdakwah mengajak ummat Islam kembali berpegang pada Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah, aqidahnya para Sahabat dan Salafus sholeh. Beliau menanamkan aqidah Islam ini kepada murid-muridnya dan memberi semangat agar mereka berdakwah mengajak ummat berpegang kepada aqidah Islam ini, karena hanya dengan aqidah Islam inilah bangsa Arab akan kembali jaya seperti pada masa Rosulullah dan para sahabatnya.
            Beliau berdiskusi dengan para ulama tentang kehancuran bangsa Arab yang diakibatkan saling membunuh, merampok dan berperang dikarenakan aqidah mereka menyimpang. Taqlid kepada syeh-syeh tasawwuf dan berbudaya syirik, bid’ah dan khurofat.
            Seorang amir di Riyadh yang menguasai negeri Nejed yaitu Muhammad bin Saud bersimpati dan mendukungnya, dengan dukungan beliau ini maka para da’i dikirim kemasjid-masjid diseluruh negeri, mengajak ummat berpegang kepada aqidah Ahlussunnah ini dan meninggalkan syirik, bid’ah dan khurofat. Dengan gencarnya dakwah ini maka pengikut aqidah Ahlussunnah ini semakin meluas dan berujung pada penghancuran kuburan para wali yang dikeramatkan. Peristiwa ini membangkitkan kebencian syeh-syeh tasawwuf dan ulama pendukungnya yang kemudian menyebarkan dusta dan fitnah yang menggambarkan bahwa inilah madzhab Wahabi yang sesat dan akan merusak Islam. Berita bohong, dusta dan fitnah ini disebarkan keseluruh negeri Islam, sehingga membangkitkan kemarahan sultan Turki. Beliau memerintahkan Muhammad Ali, raja muda di Mesir untuk menggulingkan Ibnu Saud. Dengan pasukan yang besar, Muhammad Ali berangkat menuju Riyadh untuk menghancur leburkan kota itu.
            Dibawah ancaman dan terror syeh-syeh tasawwuf dan pendukung fanatiknya, syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab serta murid-muridnya tetap bersemangat dakwah menyadarkan bangsanya tentang pentingnya aqidah Islam, aqidah salafus sholeh, aqidah yang akan mengantarkan kejayaan bangsa Arab dan menyelamatkannya dari kesengsaraanhidup didunia dan akherat. Tanpa aqidah Islam ini bangsa Arab pastilah bercerai berai saling membunuh dan menjajah, dan akibatnya adalah kesengsaraan hidup di dunia dan akherat.
            Pada tahun 1904 M, salah seorang cucu Muhammad bin Saud yaitu Abdul Aziz bin Abdul Rahman kembali berkuasa di Nejed. Kota Riyadh yang pernah dihancurkan oleh Muhammad Ali dari Mesir telah dibangun kembali sejak tahun 1902 M. dengan keberhasilan Abdul Aziz ‘Ali Saud menguasai seluruh Nejed ini, maka dakwah aqidah ahlussunnah wal jama’ah digencarkan lagi. Para da’i dikirim keseluruh pelosok negeri, bahkan merambah keluar Nejed sampai pada kabilah-kabilah yang jauh dari Nejed.
            Tahun berganti tahun, dakwah dan jihad terus berjalan tanpa hentinya dari satu kabilah ke kabilah yang lain dan dari satu negeri ke negeri yang lain. Dan pada tahun 1926 M, raja Abdul Aziz berhasil mempersatukan seluruh kabilah disemenanjung Arab ke dalam satu negara kerajaan Saudi Arabia yang kemudian memberlakukan syariat Islam berdasarkan aqidah ahlussunnah wal jama’ah.
            Dengan tekat yang kuat disertai kesabaran yang tulus, raja Abdul Aziz membagnun perekonomian rakyatnya. Kaum badui yang hidup berkelana tidur dibawah tenda-tenda dibangunkan rumah-rumah di sekitar padang rumput yang subur.  Kelebihan rumput dimusim hujan diperintahkan untuk dikeringkan dan kemudian disimpan digudang-gudang untuk pakan ternak dimusim kering. Tanah pertanian digarap dengan teratur dibawah pengawasan para ahli. Mata air yang mengalir masuk dalam pasir disalurkan melalui pipa-pipa sampai ke kebun-kebun kurma, anggur dan sayuran.
            Dikota-kota, desa-desa bahkan di kampung-kampung badui dibangun sekolah-sekolah lengkap dengan peralatannya. Di dalamnya diajarkan syariat Islam dan aqidah ahlussunnah sebagia mata pelajaran pokok. Guru-guru dibiayai negara, sedangkan murid-murid tidak dipungut biaya. Dikota-kota dibangun banyak rumah sakit yang memadai untuk rakyatnya dilengkapi dengan peralatan yang cukup, sedangkan rakyatnya yang berobat tidak dipungut biaya sedikitpun.
            Kerajaan Saudi Arabia adalah negara yang adil, makmur dan merata bagi seluruh rakyatnya. Negara yang diridhoi Allah. Rakyatnya mendapatkan ampunan dan anugerah dari Allah, dan mendapatkan rejeki yang tidak disangka-sangka, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah surat Saba’ ayat 15 :
…..بَلْدَةٌ طَـيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوْرٌ {15}
“…...Negeri  yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampunan.
            Pada musim haji tahun 1427 H yang bertepatan dengan bulan desember 2006 M, penulis sempat mengunjungi salah satu sekolah negeri di kota Mekkah. Sekolah yang dari luar tertutup tetapi dari dalam terlihat luas, terdapat lapangan voli, basket dan olah raga yang lain. Buku-buku pelajaran disediakan negara, sedangkan siswa dari tingkat dasar sampai tingkat menengah tidak dipungut biaya, bahkan mahasiswa strata satu diberi uang saku 800 riyal yang setara dengan Rp. 2.000.000.- setiap bulannya.


            Salah seorang anggota jemaah penulis menderita struk berat dan opname di rumah sakit selama 5 hari, tanpa dipungut bayaran,bahkan yang menunggu diberi makan. Memang semua rumah sakit kerajaan Saudi Arabia gratis.


            Yang mengherankan, kerajaan Saudi Arabia tidak memunggut pajak dari rakyatnya. Tidak ada pajak kendaraan, tidak ada pajak bumi dan bangunan, tidak ada retribusi di pasar-pasar dan tidak ada tukang parkir dijalan-jalan. Inilah negeri yang mendapat barokah dari Allah -subhanuahu wa ta'ala-. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raaf ayat 96 :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ…….. {96}
Dan jikalau penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Kami akan membukakan untuknya pintu-pintu barokah dari langit dan bumi…….






AQIDAH ISLAM


            Aqidah Islam adalah aqidah yang dibawa oleh utusan Allah dan dujelaskan dalam kitab-kitab yang Allah turunkan dan diwajibkan kepada semua manusia dan jin. Sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzaariyat ayat 56 :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.
Dan Allah juga berfirman dalam surat al-Israa’ ayat 23 :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ……... {23}
Dan Tuhanmu telah menetapkan supaya kamu tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya…….
Dan dalam surat an-Nahl ayat 36 :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ {36}
Dan telah Kami utuskan kepada setiap ummat seorang utusan untuk (menyerukan) agar mereka hanya beribadah kepada Allah dan (supaya) mereka menjauhi thooghuut.
            Semua nabi dating kepada ummatnya untuk mengajak berpegang pada aqidah ini dan semua kitab-kitab yang Allah turunkan menjelaskan tentang aqidah islam ini dan menerangkan apa saja yang membatalkannya. Dikarenakan sangat pentingnya aqidah ini, maka setiap orang wajib mengetahuinya sebelum mengetahui yang lain. Apalagi keberuntungan manusia di dunia dan akherat tergantung pada aqidah Islam ini. Barang siapa yang benar dan selamat aqidahnya maka ia akan mendapatkan kenikmatan di surga. Dan siapa saja yang rusak aqidahnya atau ternodai dengan syirik besar pastilah ia mendapatkan kesengsaraan di neraka.
            Pengertian aqidah adalah apa yang diyakini kebenarannya, dipegang dan diamalkan oleh pelakunya. Maka apabila aqidah ini sesuai dengan ajakan para rosul dan sejalan dengan penjelasan Allah dalam kitab-kitabnya. Itulah aqidah yang benar dan selamat, yang berbuah keselamatan dari siksa dan keberuntungan di dunia dan akherat. Sebaliknya aqidah yang menyelisihi ajaran para rosul dan menyimpang dari petunjuk Allah itulah aqidah yang sesat yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam siksa neraka.
            Aqidah yang benar dan selamat akan menyelamatkan dari siksa di akherat, sebagaimana sabda Rosulullah -sholallahu 'alaihi wa sallam- yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Jabir :
Barang siapa bertemu dengan Allah (dan ia) tidak meyekutukan-Nya dengan sesuatu maka ia masuk surga. Dan barang siapa yang menemui-Nya sedangkan ia menyekutukan-Nya dengan sesuatu maka ia masuk neraka.
            Dan dalam hadist riwayat Bukhori dan Muslim
sesungguhnya Allah mengharamkan untuk neraka orang-orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan hanya mengharap wajah Allah.
            Inilah pentingnya kalimat syahadah yang akan menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari siksa neraka. Namun sayang, mayoritas ummat Islam didunia ini tidak memahami makna syahadah, tidak tahu akan apa yang membatalkannya. Sehingga amal perbuatan mereka dalam hidup ini bertentangan dengan kandungan syahadah, dan merekapun tidak merasa.
            Aqidah yang benar dan selamat akan menghapus dosa-dosa sekalipun dosa tersebut bagaikan gunung. Dalam hadist kudsi yang diriwayatkan imam Tirmidzi dari Anas :
Allah -subhanuahu wa ta'ala- berfirman: wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian kau menemui-Ku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, maka Aku akan mendatangkan untukmu ampunan sebesar itu pula.
            Adapun syarat mendapatkan ampunan sebanyak itu adalah aqidah yang bersih dari noda syirik. Orang-orang yang aqidahnya bersih dari noda syirik, mereka itulah orang-orang yang hatinya bersih, sebagaimana firman Allah dalam surat asy-Syu’araa’ ayat 88-89 :



يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ {88} إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ {89}
Pada hari tidak ada gunanya harta dan anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.
            Sebalikya, aqidah yang rusak yang ternoda dengan syirik besar akan menghancurkan semua amal sholeh, sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 65 :

   وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ {65}
Dan telah kami wahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu apabila kamu mempersekutukan Allah maka akan hancur amal kamu dan kamu termasuk orang-orang yang merugi.
            Aqidah yang rusak yang ternoda dengan syirik akan terhalang untuk masuk surga dan menyebabkannya masuk neraka, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maaidah ayat 72 :

……إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ {72}
“…….Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga dan tempatnya adalah neraka dan tidaklah ada penolong bagi orang-orang yang dholim.
            Dan perlu diketahui bahwa aqidah yang benar akan membuahkan hati yang bersih, hubungan masyarakat yang baik dan kemakmuran yang merata. Pada waktu Rosulullah sedang membangun tatanan masyarakat Islam, di Madinah terdapat dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari orang-orang yang beraqidah benar dan selamat, mereka mendirikan masjid dengan dasar taqwa dan ikhlas atas perintah Allah dan rosul-Nya. Itulah masjid Kuba’ yang pahala sholat dimasjid tersebut setara dengan pahala umrah.
            Kelompok ke dua adalah orang-orang yang beraqidah rusak. Mereka terdiri dari orang-orang yang mengkritisi kebijakan Nabi -sholallahu 'alaihi wa sallam- dan terkadang tidak menyetujui kebijakan beliau dalam urusan social dan politik. Mereka mendirikan masjid untuk mengumpulkan orang-orang yang sepaham dengan mereka untuk berbincang-bincang dan berdiskusi tentang kebijakan Nabi yang mereka anggap tidak adil. Mereka berpendapat bahwa orang-orang Anshorlah yang berjasa membantu Rosulullah membangun masyarakat yang islami, tapi Rosulullah mengangkat orang-orang dari kalangan Muhajirin menjadi orang-orang kepercayaannya dan pembantu-pembantu dekatnya. Untuk meredam penyakit nifaq ini, Rosulullah memerintahkan merobohkan masjid ini yang dikenal dengan masjid Dhiror. Peristiwa ini tertulis dalam surat at-Taubah ayat 107.




KEWAJIBAN MEMAHAMI AQIDAH ISLAM
           
Bagi setiap orang Islam wajib mempelajari aqidah Islam supaya memahami maknanya dan apa saja yang terkandung di dalamnya, serta mempelajari apa saja yang membatalkan atau mengurangi kualitas aqidah tersebut baik berupa syirik besar ataupun syirik kecil. Firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ…….{19}
Ketahuilah sungguh tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mintalah ampunan (kepada-Nya) dari dosamu…….
            Imam Bukhori menggunakan ayat ini untuk dalil bahwa ilmu itu harus didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.
            Al-Hafidz Ibnu Hajar menceritakan bahwa Ibnu Munir berkata : “maksud ayat ini adalah bahwa ilmu menjadi syarat sahnya ucapan dan amalan, keduanya tidak ada artinya kecuali didahului dengan ilmu.
            Dari sinilah para ahli ilmu sangat mementingkan mempelajari aqidah dan mengajarkannya, mereka berpendapat bahwa aqidah wajib dipelajari sebelum mempelajari yang lain. Mereka menulis buku-buku khusus tentang aqidah yang memuat apa saja yang wajib diyakini oleh setiap orang islam dan menjelaskan apa yangmembatalkan dan menguranginya semisal syirik, bid’ah dan khurofat.
            Mereka membahas makna laa ilaha illallah yang mana bukan hanya untuk diucapkan saja, tapi perjelasan tantang makna dan apa yang ditunjukan oleh kalimat tersebut dan bagaimana mengamalkannya. Oleh karena itu ulama sepakat bahwa aqidah adalah ilmu pertama yang wajib dipelajari. Di Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, sekolah wajib mengajarkan aqidah Islam mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi. Dan Negara yang berpenduduk muslim minoritas, mereka mendirikan madrasah-madrasah yang mementingkan pelajaran agama terutama pelajaran aqidah dari pada pelajaran umum. Dan apabila aqidah tidak diutamakan dan hanya menjadi mata pelajaran tambahan atau hanya untuk mengisi kekosongan dirapot dan tidak ditanamkan dalam diri anak-anak muslim, maka bangsa itu akan tetap menjadi bangsa jahiliyah dan terbelakang yang akan mudah budaya syirik, bid’ah dan khurofat untuk masuk kedalamnya sehingga akan meyakininya sebagai syariat. Wal’iyaadzubillah.
            Karena khawatir akan hal tersebut, Amirul Mukminin Umar bin Khattab pernah berkata : “dikawatirkan akan teruntai-untai tali Islam sedikit demi sedikit jikalau seseorang hidap ditengah-tengah kehidupan Islam akan tetapi ia tidak mengetahui kejahiliyahan.
            Untuk menghindari keadaan seperti ini, maka siswa-siswi muslim wajib diberi pelajaran aqidah yang benar dan selamat, aqidah yang dipegang oleh para sahabat dan generasi utama setelahnya yang kemudian terkenal dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Mereka harus dijauhkan dari kitab-kitab yang menyimpang seperti kitab-kitab Mu’tazilah, Asy’ariyah dan kelompok-kelompok yang lain yang menyimpang dari kebenaran.
            Pada awal abad keempat hijriyah, hidup pemikir-pemikir rasional, mereka menyusun aqidah yang didasari akal pikiran, ayat-ayat al-Qur’an dan hadist-hadist yang shohih mereka tolak jika bertentangan dengan akal mereka. Dan mereka mentakwilkan ayat-ayat yang mutasyabih. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan golongan Mu’tazilah. Seorang tokoh mereka yang bernama Abu Ali al-Jabai mempunyai murid yang cerdas bernama Abu Hasan al-Asy’ari. Dia mengarang kitab aqidah dengan cara pandang Mu’tazilah tapi tetap berdasarkan al-Qur’an dan dalil-dalil akal. Kitab ini menjelaskan tentang Asma’ dan Sifat Allah, dan mengabaikan rububiyah dan ‘uluhiyah Allah yang menjadi inti dari pada dakwah para rosul. Pengarang kitab ini menjelaskan Asma’ dan Sifat Allah dan membatasi hanya 20 sifat wajib bagi Allah. Kitab ini menjadi rujukan para ulama Mu’tazilah untuk kemudian diajarkan kepada murid-murid mereka dan disebar luaskan ke seluruh dunia. Bermula dari itulah kemudian muncul madzhab yang dikenal dengan sebutan Asy’ariyah.
            Dengan tersebarnya madzhab Asy’ariyah, maka aqidah yang benar yaitu aqidah para sahabat menjadi terpinggirkan dan hanya dipegang oleh ulama dari madzhab Hanabilah. Umumnya para ulama tidak mau tahu bahwa pada akhir hayatnya Abu Hasan al-Asy’ari kembali kepada madzhab ahlussunnah wal jama’ah dan menulis kitab berjudul al-Ibaanah fi Umuurid Diniyyah.
            Disamping diajarkan di sekolah-sekolah, aqidah ahlussunnah wal jama’ah juga wajib dikaji di masjid-masjid, mushola-mushola dan di tempat-tempat pengajian yang lain. Ditempat-tempat tersebut dikaji kitab aqidah mulai dari yang ringkas sampai yang luas bahasannya. Dengan demikian, tersebarlah aqidah Islam ini, dengan ummat Islam yang beraqidah islamiyah, berakhlaq islami, dan beradab islami. Dan pastilah negeri mereka akan dipenuhi dengan ridho Allah yaitu negeri yang makmur, adil dan merata bagi seluruh rakyatnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raaf ayat 96 :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ…….. {96}
Dan jikalau penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Kami akan membukakan untuknya pintu-pintu barokah dari langit dan bumi…….
           


DAKWAH KEPADA AQIDAH ISLAMIYAH

            Setelah mendapatkan anugerah dari Allah untuk memahami aqidah Islam ini, setiap muslim wajib mengajak orang-orang untuk berpegang kepada aqidah Islam ini agar mereka dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya hidayat Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 257 :

اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {257}
Allah adalah Pemimpin orang-orang beriman yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benerang, dan orang-orang yang kafir, pemimpin mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka itulah penghuni neraka yang kekal di dalamnya.
            Mengajak berpegang pada aqidah Islam adalah dakwah pertama yang dilakukan oleh para rosul, mereka tidak mengajak ibadah apapun sebelum ummatnya mau beraqidah Islam ini. Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 36 :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ {36}
Dan telah Kami utuskan kepada setiap ummat seorang utusan untuk (menyerukan) agar mereka hanya beribadah kepada Allah dan (supaya) mereka menjauhi thooghuut.
            Jadi ibadah dengan Allah tidak bisa dicampur dengan beribadah kepada thoghut. Sedangkan makna thoghut adalah apa-apa yang di ibadahi selain Allah, misalnya berhala, kuburan orang-orang sholeh yang dikeramatkan, pohon dan lain-lain.
            Semua utusan mengajak ummatnya untuk beribadah kepada Allah saja dan harus meninggalkan ibadah kepada selain Allah, sebagaimana perkataan nabi Hud kepada kaumnya yang Allah abadikan dalam surat Huud ayat 50 :

…….اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ…….{50}
……beribadahlah kamu kepada Allah yang tiada sesembahan selainnya…….”
            Maka setiap muslim yang sudah mengerti aqidah Islam tidak boleh hanya untuk diri sendiri dan merasa aman karena dirinya sudah beraqidah shohihah. Tetapi ia wajib mengajak orang lainnya untuk beraqidah Islam ini dengan uraian yang menyejukan jiwa dan nasehat yang baik.
            Sesungguhnya dakwah kepada aqidah Islam ini adalah dasar yang harus diutamakan dan didahulukan. Tidak benar mengajak manusia untuk melakukan kewajiban syariat seperti sholat, puasa dan haji atau untuk meninggalkan larangan sebelum mereka memahami aqidah Islam ini dan mengamalkannya. Sebab aqidah Islam inilah yang menjadi dasar diterimanya amal disisi Allah, dan tanpa aqidah Islam ini amal-amal sholeh tidak akan diterima dan tidak akan mendapat pahala, karena Allah berfirman dalam surat al-An’aam ayat 88 :

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {88}
Itulah petunjuk Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan jikalau mereka menyekutukan (Allah) sungguh akan hancur amalan-amalan yang mereka kerjakan.
            Dan dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas -rodhiallahu 'anhu-: diceritakan bahwa ketika Rosulullah mengutus Muadz bin Jabal -rodhiallahu 'anhu- ke Yaman menjadi gubernur, beliau berpesan :”Hai Muadz, engkau akan berjumpa dengan orang-orang ahli kitab (yahudi dan nasrani), maka ajarkanlah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Apabila mereka mengikutimu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu sehari semalam. Dan apabila mereka mentaatimu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah wajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada fakir miskin diantara mereka….”
            Didalam hadist inilah tampak jelas yang pertama kali didakwahkan kepada manusia adalah syahadah laa ilaha illallah. Syahadah berarti benar-benar mengetahui, seperti tampak didepan mata. Jadi orang yang mengucapkan kalimat syahadah karena paham maknanya, mengetahui kandunganya dan apa saja yang membatalkan dan kemudian mengamalkannya dengan beribadah kepada Allah saja serta meninggalkan ibadah kepada selainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar